“Remember that wherever your heart is, there you will find your treasure.” (― Paulo Coelho, The Alchemist)

[Fanfiksi]: Sepasang Ayah

Thursday, June 16, 2011
Sebuah fanfiksi. Di-publish di fanfiction.net pada 14 Juni 2011.
Fandom: Bleach
Karakter: Kurosaki Isshin; Ishida Ryuuken
Genre: General, Friendship
Ringkasan: Perbincangan mendebatkan ayah mana yang lebih sialan, sepertinya adalah salah satu cara menghabiskan waktu di kota mati.
 Bleach [character and art]©Tite Kubo  || art edited by: me

.

#

.

Sepasang Ayah

[asap rokok. perang musim dingin. anak-anak yang nyaris mati]

oleh: faria

.

#

.

Asap rokok.

Putih. Lantai, langit-langit, pintu, seprai, tirai. Segalanya putih.

Matanya terpaku ke luar jendela—biru cerah. Namun dingin. Hawa mengerikan yang bisa membuat siapa pun mati tanpa sadar.

Pertarungan besar. Perang.

Dingin.

Ya, perang di musim dingin.

Asap rokok lagi.

Ia tidak ingin terlibat—tidak lagi.

.

.

.

Pintu terbuka, menampakkan sosok berpakaian hitam yang tampak serius—tidak seperti biasanya.

“Untuk apa kau datang,“ suara dingin menyapa dari balik meja, “Kurosaki?”

Pria berjanggut menyunggingkan senyum tipis. “He? Apa kepalamu terjeduk meja sehingga tumben-tumbennya menyebut namaku dengan benar seperti itu?”

Pria di balik meja menghentikan gerakan menulisnya. Dari balik kacamata bening, ia memandang tajam sosok yang melangkah di dekatnya. “Jangan besar kepala hanya karena kekuatanmu sudah kembali,” ia menjawab datar.

“Che. Bahkan di saat seperti ini kau tetap tidak berubah, Ishida,” pria berjanggut berdiri di dekat meja putih yang tampak kaku.

Hening.

Pria berjanggut merogoh bagian dalam pakaian hitamnya, mengeluarkan sebungkus rokok dan sebuah pemantik perak.

CLING.

Asap rokok.

Tawa tipis dari pria berjanggut. “Kupikir kau akan memanahku karena merokok di dalam rumah sakit,” ujarnya seraya melemparkan rokok dan pemantik ke hadapan pria di balik meja.

Pria di balik meja, berkacamata, dengan tenang mengambil satu rokok dari yang ditawarkan padanya.

“Panah Quincy-ku tidak untuk memanah segala hal,” balasnya.

Si pria berjanggut membiarkan senyum ‘percaya’ mengembang di wajahnya. “Sulit dipercaya kau masih mengerjakan paperwork dalam keadaan seperti ini.” Satu hembusan.

Pria berkacamata menyandarkan tubuh ke kursi dan mulai menyalakan rokoknya. “Apa yang kalian lakukan, tidak ada hubungannya denganku.”

Langkah-langkah bergema di ruangan segiempat itu, si pria berjanggut mendudukkan diri di atas dipan berseprai putih. Dari tempat itu, si pria berjanggut mengamati punggung pria berkacamata—dan rambut perak kebiruannya.

“Kau hanya lari dari segalanya, bodoh,” pria berjanggut bicara tenang.

Jeda.

Lalu balasan sarkastis, “Ternyata aku bicara dengan seseorang yang tidak lari dari segalanya.”

Tawa tipis.

Si pria berkacamata menghisap rokoknya dalam-dalam, lalu menghembuskannya seraya memandang langit-langit. “Kecuali, kau kemari untuk membanggakan diri bahwa kau akan berhenti lari dari segalanya,” ia berujar.

Asap rokok.

“Kau membuatnya terdengar seperti: segalanya sudah terlambat,” pria berjanggut membalas.

“Keajaiban lain bahwa kau bisa menerjemahkan kata-kataku, Kurosaki.”

Dipan berderit sedikit ketika pria berjanggut menyamankan duduknya.

“Dan keajaiban lain bahwa hari ini kau tampak begitu senang berbicara, Ishida.”

Kursi memutar, membiarkan pria berkacamata memandang tajam pria berjanggut.

Asap rokok lagi.

Pria berjanggut memandang keluar jendela. Ilusi langit biru yang tenang dan damai menjadi bagian yang memperindah ruangan putih itu.

“Tidakkah kau khawatir pada kondisi kota ini? Seingin apapun kau mengabaikannya, tetap saja kau tahu apa yang terjadi di luar sana, kan?” Pria berjanggut bicara tanpa melepaskan pandangan dari suatu titik di jendela.

Pria berkacamata mengadahkan kepalanya ke atas langit-langit. Tidak biru, tentu—itu putih. “Sudah kukatakan,” ia mulai, “apa yang kalian lakukan, tidak ada hubungannya denganku.”

Tak tampak satu pun awan, dan mata pria berjanggut mulai jengah. “Dan kau tahu putramu sudah terlibat dalam semua ini.” Ia akhirnya berhenti memandangi jendela.

Untuk pertama kalinya di ruangan itu terdengar tawa tipis dari bibir yang lain. Pria berkacamata tampak tidak begitu peduli bahwa ia seperti keluar dari karakter. Salahkan pria berjanggut itu—kini ia benar-benar konyol.

“Sesuatu yang keluar dari mulut seorang ayah yang membiarkan putranya di depan maut tanpa memberitahu apa pun. Lucu sekali.” Sarkasme yang lain.

Kursi berputar lagi. Pria berkacamata kembali pada kertas-kertasnya di meja, sesekali menghembuskan rokoknya dengan tenang. Pria berjanggut mengamati. Tapi diam.

Perbincangan mendebatkan ayah mana yang lebih sialan, sepertinya adalah salah satu cara menghabiskan waktu di kota mati. Untuk suatu alasan, kedua pria merasa ingin tertawa di hati masing-masing.

“Kau sendiri membiarkannya pergi, setelah memberinya kekuatan. Bahkan setelah memaki kau tidak peduli dengan darah keluargamu.”

“Kita sudah pernah membicarakannya. Dan kau sendiri berpura-pura tak melihat, ketika ia kembali dengan darah di sekujur tubuh. Bahkan berakting seperti orangtua bodoh yang terlalu ceria.”

Dialognya sungguh menjadi pemanas di musim dingin seperti sekarang. Frustasi dalam wujud kata-kata adalah cara memaafkan diri sendiri, sepertinya.

Diam.

Asap rokok.

Pria berjanggut tertawa pahit. “Apakah menurutmu aku benar-benar ayah yang payah?”

Jeda.

Pria berkacamata berhenti dari kertas-kertasnya. Menyandarkan tubuh di kursi, memandang langit-langit putih. Kali itu asap rokok tak terhembus keluar. Lalu ia membuka suara, “Hampir setara denganku, mungkin.”

Di luar sana semakin dingin.

Bukan saljunya—belum ada salju. Mungkin yang ada serpihan es. Kadang-kadang api—atau mungkin ledakan. Semakin ramai di luar sana. Meski jauh, tetap saja terasa.

Tapi memang semakin dingin.

“Kau yakin tidak mau pergi?” Pria berkacamata tak menyebutkan jelas arah yang dimaksudnya. Tidak perlu—mereka berdua sama-sama mengerti.

“Entahlah.” Itu menutup segalanya.

Pria berkacamata menghembuskan rokoknya untuk terakhir kali, lalu melempar batang rokoknya ke tempat sampah bundar di dekat meja. Tangannya lalu mulai bergerak lagi.

“Sampai kapan kau akan di sini?” Terdengar pria berjanggut berujar, merebahkan diri di dipan putih.

Tetap menulis, tidak menoleh. “Aku tidak sudi terlibat dengan kalian.”

Itu bukan jawaban. Tetap, pria berjanggut mengabaikannya; seperti pria berkacamata tahu bahwa pria berjanggut akan pergi—cepat atau lambat.

Mereka mengabaikannya.

Bukankah segalanya sudah terlalu lama? Mereka berdua sama-sama sudah bersembunyi terlalu lama. Membuang harga diri sebagai orang tua di depan anak-anak yang berjuang. Bersembunyi, terkekang masa lalu.

Sudah terlalu lama.

Mereka tidak saling menatap. Yang satu menatap kertas, tenggelam dalam menulis. Yang satu menatap langit-langit, berkubang dalam asap rokok. Tapi keduanya sama-sama tahu.

Mereka adalah sepasang ayah munafik.

Penuh sandiwara, berlaku seperti mengabaikan segalanya. Yang satu polos seperti tak tahu apa-apa, yang satu garang seperti benci segalanya; padahal mereka peduli. Siapa yang merokok di balik dinding pencakar langit ketika makhluk-makhluk berpakaian putih menghunuskan pedang? Siapa yang merokok di balik batang pohon ketika makhluk berwujud ganjil menghindari serangan pembelaan diri?

Asap rokok saksinya.

Mereka adalah sepasang ayah sialan.

Bersikap seperti tak ada apapun. Mencium bau darah, melihat goresan luka, mendengar benturan; mengetahui redupnya energi kehidupan anak-anak mereka. Siapa yang merokok di depan nisan dan meminta maaf lewat pandangan mata? Siapa yang merokok di depan simbol keluarga dan meminta maaf lewat pantulan kacamata?

Asap rokok saksinya.

Mereka adalah sepasang ayah sinting—dua laki-laki yang mengirim anak-anaknya menuju mati.

“Hei—” Keheningan itu dipecahkan oleh pria berjanggut yang masih berbaring mengamati sesuatu di langit-langit.

Pria berkacamata berhenti di baris ke sekian dari kertas penuh tulisan di tangannya. “Apa?” tanyanya.

Pria berjanggut menghembuskan asap rokok, tersenyum pahit begitu saja. “Kota ini bisa saja hancur.”

Hening.

Kertas beralih ke tumpukan seharusnya, karena tangan pria berkacamata memilih mengapit batang rokok di bibir. “Perlu berapa kali kuulangi?” Suara dingin terdengar. “Apa yang kalian lakukan bukan urusan-ku.” Pria itu mendengus.

Pria berjanggut bangkit untuk duduk. “Keras kepala,” komentarnya. Satu hembusan lagi, lalu pandangan pria itu menerawang. “Jangan iri kalau aku sudah berhenti jadi ayah sialan nanti—“

Hening beberapa saat.

“Bodoh.”

Tawa hambar dari pria berjanggut. Tidak ada balasan lagi, semata karena mereka saling memahami segalanya.

Sudah terlambat.

Mereka sudah terlalu sialan untuk berhenti.

Pria berjanggut menjulurkan tangan untuk membuka laci meja putih kecil di sisi tempat tidur. Ia mengeluarkan secarik kertas, dan mengambil sebuah pena.

Pria berkacamata menghembuskan asap rokoknya untuk terakhir kali sebelum membuang batang putih itu ke asbak bening di mejanya. “Kau akan membuatnya semakin kacau jika kau berterusterang sekarang,” ia berujar.

Terdengar corat-coret pendek. Pria berjanggut menuliskan sesuatu, dan menarik sudut bibirnya sedikit. “Aku tahu,” balasnya.

Kursi pria berkacamata sedikit berderit. “Kau masih tidak lebih sialan dariku,” gumamnya.

Pria berjanggut selesai dengan tulisannya. Pandangannya beralih ke punggung pria berkacamata yang terbalut jas putih. “Tidak juga,” ujarnya.

Perdebatan absurd yang lain.

Dentuman di kejauhan sedikit bergema keras melalui getaran kekuatan. Dua pria itu mengabaikannya. Perang yang sesungguhnya membuat hati teriris. Untuk darah daging yang berada di garis terdepan dan redup energi kehidupannya.

Pria berjanggut menyunggingkan senyum getir, sebelum meletakkan kertas yang ditulisnya di atas dipan berseprai putih. “Kita harus menghentikan semua ini,” ia berujar tipis.

Diam.

Untuk pertama kalinya, pria berkacamata terlihat tidak menentang ucapan pria di belakangnya. “Aku tahu,” ujarnya pelan.

Mereka tahu.

Suatu saat—mungkin tidak lama—mereka harus menghentikan semua kepura-puraan itu. Semua kekacauan yang membuat mereka adalah sepasang ayah sialan.

Segalanya.

Ketika pria berjanggut menyelinap dengan shunpo meninggalkan ruangan putih itu, pria berkacamata mengeluarkan rokoknya yang baru.

CLING.

Asap rokok.

Pria berkacamata melirik kertas kecil di atas dipan putih yang kosong. Kemudian pandangan pria itu beralih ke langit yang tampak—entah sejak kapan—kelam.

Hembusan lagi.

“Bodoh,” sahutnya entah pada siapa.

Mungkin pada dirinya sendiri—atau pada ayah lain yang sama sialan dengannya. Yang mana pun, tidak menghentikan dingin dari perang di atas sana.

Asap rokok lagi.

Kota sudah hampir mati.

.

.

.

Kota mati.

Perang di musim dingin.

Asap rokok.

Dan untuk tidak ingin terlibat, sesungguhnya ia sudah begitu terlibat.

Untuk segala dingin yang menusuk di ruangan putih; untuk darah daging yang berada di tengah perang, yang hanya tahu kebohongan dan kebencian; untuk segala yang membuat ia—mereka—adalah sepasang ayah yang payah; ia membuangnya.

Ia membuang rokoknya.

Setidaknya sampai semua perang itu selesai.

Hanya tinggal menunggu, setelah semua perangnya, ayah mana yang jadi lebih sialan?

.

.

.

Mungkin… ia akan mencoba sedikit berubah setelah segalanya selesai.

Mungkin.

.

.

.

“…What a shitty dad.”
“Just trying to one-up to you.”
“…Yeah… I get it.”

[Kurosaki Isshin dan Ishida Ryuuken
—Bleach 241: Silver Flame]

.

#

.

.end.

.

Lembar Dua

"...instead of regretting about the past,
what's most important is to change the present
for the future." [The Fairy, Proposal Daisakusen]
帰路 (c) 36

Belakangan ini, banyak hal yang saya pikirkan. Kekosongan waktu yang sedikit lebih banyak dari biasanya membuat berbagai untaian tema menari di kepala saya. Bukan—kali ini bukan mengenai memori maupun masa lalu. Kali ini mengenai masa sekarang.

Ironis. Saya baru saja selesai dengan sebuah dorama Jepang berjudul Proposal Daisakusen dan 24 episode anime Fate/Stay Night—keduanya adalah hasil rampokan dari seorang teman. Dua kisah yang sama sekali berbeda. Yang satu drama bertema real-life fantasy dengan unsur humor dan persahabatan yang kental. Begitu hangat—terlalu hangat sampai membuat saya hampir muak. Yang satu animasi bertema supernatural fantasy dengan unsur action berbumbu romens. Begitu tidak nyata—terlalu tidak nyata sampai mengingatkan saya akan mimpi. Bagaimanapun, di akhir, kedua kisah itu menyampaikan sebuah pesan yang hampir sama, yang saya simpulkan sendiri:

--Bagaimanapun kau mengubah masa lalu, semua perubahan itu tidak ada artinya untuk masa depan—kecuali kau berani mengubah dirimu sekarang.

--Kau tidak bisa mengulang sesuatu yang kau lakukan di masa lalu. Kau bisa saja kembali ke masa lalu, tapi apakah itu yang benar-benar kau inginkan? Mengapa kau tidak berharap untuk masa sekarang—untuk senyummu di masa depan?

How ironic, really. Karena itulah yang tengah berputar di kepala saya selama beberapa waktu terakhir. Banyak hal yang saya lalui, banyak kebingungan yang saya temui, dan banyak kesedihan yang saya tangisi. Segalanya membuat saya merasa seperti tidak sedang menjadi diri saya sendiri. Lama sekali rasanya—berapa?—dua tahun? Tanpa akhir, pikiran-pikiran ini.

Entah bagaimana, belakangan ini saya merasakan suatu ketenangan batin yang menentramkan. Dalam sela-sela kesendirian, saya mulai berpikir ulang tentang banyak hal. Tentang keputusan-keputusan, kemarahan-kemarahan, kesedihan-kesedihan, dan sedikit kenangan-kenangan.

Saya baru menyadari sesuatu. Dalam beberapa waktu terakhir, saya merasa seperti sedang menyiksa diri sendiri dengan melakukan banyak kesalahan dalam kehidupan. Seolah semua pilihan kehidupan yang saya ambil kebetulan mengantarkan saya hanya pada kegelapan. Namun—ini baru saya sadari, ternyata setelah semua yang saya alami, saya tidak pernah menyesali segalanya.

Tidak pernah sekali pun, saya menyesali pilihan-pilihan kehidupan yang saya ambil. Saya menangis, ya—tapi saya tidak pernah berpikir seperti: ‘Seandainya saja dulu aku…’. Tidak pernah. Dan saya begitu terkejut bahwa ternyata saya tidak senista apa yang saya anggap selama ini.

Konyol sekali (dan saya mengetik ini dengan senyum pahit, sungguh). Begitu banyak waktu yang saya habiskan untuk menangisi sesuatu yang bahkan saya sendiri tidak mengerti. Lalu, sekarang, begitu saja sesuatu seperti mengisi hati saya dan seolah menenangkan saya atas segala pikiran-pikiran absurd ini.

Tidak, ini bukan fanfiksi. Saya yang paling tahu seberapa sering tema dan diksi semacam ini termanifesti dalam karya saya. Sulit dipercaya saya benar-benar mengalaminya sendiri. Memang abstrak, benar.

Sekarang—apa? Ada banyak hal yang ingin saya inginkan. Sebagian besar di antaranya adalah hal-hal yang sebelumnya saya label tabu dalam prinsip hidup. Dulu—beberapa waktu lalu?—saya akan menangisi diri sendiri karena bisa-bisanya menginginkan sesuatu yang tidak boleh. Tapi sekarang—ya, detik ini—agaknya saya merasa lebih tenang dan mulai memandang dari sudut yang berbeda.

Segala hal berubah.

Dunia—dan saya. Perubahan selalu menjadi sesuatu yang saya benci diam-diam—fakta ini juga baru saya temukan beberapa waktu lalu dalam sebuah perjalanan mengeluarkan semua memori kehidupan dalam bentuk tulisan. Saya selalu takut dan menghindari perubahan.

Saya tahu itu. Kegelisahan tanpa akhir ini adalah bentuk kekhawatiran terhadap diri sendiri. Saya tahu—karena saya mulai berubah. Terlalu banyak hal yang berbeda, dan saya membenci diri saya karena itu.

Itu masa lalu. Lembar kemarin.

Namun ini bukan kisah drama. Saya tidak bisa begitu saja menerima perubahan. Namun saya tahu—ya, saya yakin—sesuatu sedang mengikis idealisme tak berdasar di hati saya ini.

Saya ingin berdiri di masa sekarang—tempat dimana saya masih tetap bisa memandang jejak saya di masa lalu dan mengagumi bentangan keindahan yang menjadi misteri masa depan. Saya bisa saja menangisi masa lalu, atau berharap segalanya berubah—tapi saya sesungguhnya tidak benar-benar ingin kembali.

Jika merasakan hembusan angin, seraya berjalan menyusuri jalan kampus yang teduh, yang ingin saya lakukan hanyalah tersenyum.

Saya merasa hidup.

Hidup memang selalu berputar. Jika ada seseorang yang mungkin selalu berputar di kepala saya selama setahun terakhir, dan kebetulan membaca tulisan ini, maka saya hanya ingin Anda tahu bahwa saya tidak menyesali segalanya. Ya, masa lalu itu memang menyedihkan, karena itu keputusan dan pilihan saya—atau Anda juga. Saya tidak ingin menangisi masa itu, atau berharap kembali. Saya pernah menulisnya, Anda tahu? Jejak hati. Biarkan jejak itu ada di belakang saya yang sekarang. Saya hanya ingin… jika suatu saat bertemu dengan Anda lagi, saya tahu bahwa segala yang sudah saya lalui tidak sia-sia.

Yang ingin saya ubah adalah masa sekarang—agar saya bisa tersenyum di masa depan.

Terima kasih Kehidupan, karena telah memutar kembali dunia saya dengan keindahan. Untuk saya yang sekarang, hanya butuh menjalani hari-hari dengan apa adanya.
“…Tell it to those who look at who we are now:
The ordinary every day is a miracle too
We ourselves are an unfolding miracle

What we should look for is not something ‘special’
It is the miracle right before our eyes
Called our ordinary days…”

[—Ikimono Gakari, Kokoro no Hana wo Sakaseyo]

Chatmonchy - Daidai [Bitter Orange] (lyrics)

Tuesday, May 31, 2011
Daidai [Bitter Orange]

Chatmonchy


Nani mo te ni tsukanai
I can’t concentrate on anything
shirokuro no hitomi de
with these eyes of black and white.
Watashi wa tada hitasura
I am nothing special..
There is nothing I can do for you
There is nothing I can do for you.


Ano goro no watashi wa
The way I used to be…
Nani ni kandou shite
What impressed me?
Nani ni manzoku shite
What made me satisfied?
Jibun o rikai shiteita no
Did I understand myself?


Doko ni mo ikanaide
Please don’t go anywhere
Please don't go anywhere
Please don’t go anywhere


Ichi nen mae ni modoritai nante
I want to return to a year ago..
Nande ima sara omoeru ka na
How can I think that now after all this time?
Ano goro no watashi wa kinou to onaji
The me from long ago didn’t think
Kyou nante kangae nakatta
today would be the same as yesterday


Mou kore ijou ikanaide
Please don’t go anymore
Please don't go anymore
Please don’t go anymore


Me o tsuburu to arukenai to wakatteita no ni
I can’t walk with my eyes closed; I realized that.
Hitori tsubutteita
One by one, I closed my eyes.
Me o sorasu to susumenai to wakatteita no ni
I can’t go on looking away; I realized that.
Hitori sorashiteita
One by one, I turned my eyes away.


Itsu no manika anata o kizutsuke
Before I knew it, I hurt you.
Omoi kakenai koto mo o hasshiteita
I fired unexpected words.
Amaeru kiki tsuzukenuita watashi wa
Without depending on your kindness, I live on.
Kondo wa nani o motomeru ka na
What will I wish for next time?


Mou doko ni mo ikanaide
Please don’t go anywhere
Please don't go anywhere
Please don’t go anywhere
Mou kore ijou ikanaide
Please don’t go anymore
Please don't go anymore
Please don’t go anymore


Mou kore ijou arukenai
I can’t walk anymore
Mou kore ijou arukenai
I can’t walk anymore
Mou kore ijou arukenai watashi wa
I can’t walk anymore, I…

Credit: lyricsmode (romaji); crossroadtranslation (translation)

menyayat duka

Monday, May 30, 2011
menyayat duka

disclaimer: Luminous Lu via http://rinidwicahyanti.tumblr.com





aku mabuk kematian.
tanpa rasa.
darah. laut. laut.
luka menganga.

serpihan.
tajam. tajam. tajam.
semua yang sudah berlalu adalah sialan.
rendah hanya dengan mengharap.

kata yang sama.
wajah yang berbeda.
konyol. dusta.

aku ingin membunuh.
menguar anyir.
daging. kulit. mata.
nyawa terlupa.

pijakan.
semu. semu. semu.
di bawah kaki adalah sampah.
nista hanya dengan menjejak.

tawa yang nyata.
konsistensi.
sesal. maut.

bagaimana caranya mencabik hati?
pisau. tangis. jantung.

selamat tinggal.


ziafarah~29042011

After School - Because of (lyrics)

Because of You

After School


Ajikdo… na geudaereul…
ijji mothae
I still… can’t…
Get over you
I’ll never forget, boy
I’ll never forget, boy
I’ll never forget, boy
I’ll never forget, boy


He eojinji beolsseo myeot nyeoni jinatneunji molla
Can’t remember how many years
It has been since we broke up
Geudae saenggak manhamyeon jakku nunmul man heulleo
But I cry every time when
I think about you
Oneul ttara wae geureohke niga bogo peulkka
Why I’m so eager
to see you today?
Chang bakkwi bissoriga nae mameul heundeureo nwa
The sound of rain droplets leaves
 my heart shaken up


Sarang haji malgeol geuraesseo
Jeong juji malgeol geuraesseo
I regret giving you my love
I regret getting attached to you
Butjapji malgeol geuraesseo
Wae ireohke na honja apa
I regret holding you back
Why do I have to face the pain alone?
Sarang haji malgeol geuraesseo
Jeong juji malgeol geuraesseo
I regret giving you my love
I regret getting attached to you
Butjapji malgeol geuraesseo
Wae ireohke na honja apa
I regret holding you back
Why do I have to face the pain alone?


Nan hangsang neomanwi jang miga dwiryeodeon nae mameul ani
I tried to be your only girl and
did you ever understood my heart?
Ije jogaknan sarangwi machim pyoga dwaetdaneun geol
Now it became the compass
of broken love
Nunmuri millyeowa memareun ibsuri jeojeo
Tears are flowing down and
soaks the dry lips
Ije eotteokhae geudael ijeulsu eobseo
Oh what should I do, now
I can’t erase you out of my mind


Neo ttaemune manhido ureosseo (maeil bam nan)
I cried a lot because of you
(I cried every night)
Neo ttaemune manhido useosseo (geudae ttaemune)
I laughed a lot because of you (because of you)
Neo ttaemune sarangeul mideosseo (oh boy)
I believed in the love because of you (oh boy)
Neo ttaemune, neo ttaemune, moduda ilheosseo
I’ve lost everything
because of you


Jeongmal dap dap daphae
Gap, gap, gaphae, mak mak makhae
I’m speechless, suffocating
and lonely
Neo eobtneun sesangi
The world without you has
Nae malmameul sshibeo nohgo Jajonsim jit balba nohgo
Chewed out my heart
Stomped on my dignity
Nae mameul jjijeo nohgo
Wae nareul tteonaga
Torn apart my heart
So why did you leave me behind?


Geunaldo biga wasseotji hanchameul geudaen
It also rained on that day
You’ve stared at me wordlessly
Mareobshi nareul bara bogiman haesseo
You’ve stared at nothing else
but me
Heundeulli neun nunbitgwa aesseo jitneun eosaekhan
Those trembling gazes and
the awkwardly forced smile
Misoga ibyeoreul yaegi haejweo
Speaks of our separation


Sarang haji malgeol geuraesseo
Jeong juji malgeol geuraesseo
I regret giving you my love
I regret getting attached to you
Butjapji malgeol geuraesseo
Wae ireohke na honja apa
I regret holding you back
Why do I have to face the pain alone?
Sarang haji malgeol geuraesseo
Jeong juji malgeol geuraesseo
I regret giving you my love
I regret getting attached to you
Butjapji malgeol geuraesseo
Wae ireohke na honja apa
I regret holding you back
Why do I have to face the pain alone?


Nabogo tteonarago hal ttaen eonjego tteonan danikka eojjeogo
You’ve told me to leave
And the moment leave
Michin saram chwigeup manhae Jeongmal himdeureo boy, slow down
You treat me as if I’m insane
It’s just too hard boy, slow down
Amureon maldo mothan chae ureo, Cause I want to stay next to you
Then I cry silently and wordlessly, Cause I want to stay next to you
My love is true, wanna go back to when I was with you
My love is true, wanna go back to when I was with you


Neo ttaemune manhido ureosseo (maeil bam nan)
I cried a lot because of you
(I cried every night)
Neo ttaemune manhido useosseo (geudae ttaemune)
I laughed a lot because of you (because of you)
Neo ttaemune sarangeul mideosseo (oh boy)
I believed in the love because of you (oh boy)
Neo ttaemune, neo ttaemune, moduda ilheosseo
I’ve lost everything
because of you


Jeongmal dap dap daphae
Gap, gap, gaphae, mak mak makhae
I’m speechless, suffocating
and lonely
Neo eobtneun sesangi
The world without you has
Nae malmameul sshibeo nohgo Jajonsim jit balba nohgo
Chewed out my heart
Stomped on my dignity
Nae mameul jjijeo nohgo
Wae nareul tteonaga
Torn apart my heart
So why did you leave me behind?


I miss you, I need you
I miss you, I need you
Kkum sogeseon ajikdo I’m with you
Even in my dreams I’m with you
I miss you, I need you
I miss you, I need you
Shiganeul dwi deollyeo wanna kiss you again, my boy
Rewind back the time I wanna kiss you again, my boy


Mami neomu apeunde gyeondigi
My heart aches
Gwiro unde neoneun eodiseon mweol hani
(na ureosseo cham manhi)
It’s too much to bear and
where are you?
(I cried a lot)
Neo eobshin nan mossareo
Can’t live without you
Naegero dorawajweo
nal tteonagajima
Please come back to me and
stay with me


Neo ttaemune manhido ureosseo (yeah)
I cried a lot because of you
(yeah)
Neo ttaemune manhido useosseo (manhido useosseo nan)
I laughed a lot because of you
(I laughed a lot)
Neo ttaemune sarangeul mideosseo (oh yeah)
I believed in the love because of you (oh yeah)
Neo ttaemune, neo ttaemune, moduda ilheosseo (neo ttaemune na)
I’ve lost everything because of you (because of you)


Jeongmal dap dap daphae
Gap, gap, gaphae, mak mak makhae
I’m speechless, suffocating
and lonely
Neo eobtneun sesangi
The world without you has
Nae malmameul sshibeo nohgo Jajonsim jit balba nohgo
Chewed out my heart
Stomped on my dignity
Nae mameul jjijeo nohgo
Wae nareul tteonaga
Torn apart my heart
So why did you leave me behind?

[credit: moonlightunes.wordpress.com] 

Custom Post Signature

Custom Post  Signature