“Remember that wherever your heart is, there you will find your treasure.” (― Paulo Coelho, The Alchemist)

[Fanfiksi]: Mempercayai Takdir

Monday, June 20, 2011
Sebuah fanfiksi. Di-publish di fanfiction.net pada 18 Juni 2010. 

Fandom: Naruto 
Karakter: Hyuuga Hinata; Hyuuga Neji 
Genre:Romance/Tragedy 
Ringkasan: Lupakan air mata, kau bahkan mengobral darahmu hanya demi pemuda itu—seorang Uzumaki Naruto. Semuanya tidak akan sesulit ini, jika saja kau mau mempercayai takdir. 

.

#

.
Sebesar apapun kau mencintainya, ia tidak pernah berpaling padamu.
Sebesar apapun kau menginginkannya, ia tidak pernah membalas cintamu.
Bahkan ketika kau mampu merantai raganya tepat di sampingmu, hatinya tidak pernah bisa menjadi milikmu.
Sekarang kau bisa mempercayai takdir, bukan?

Naruto [character and art] ©Masashi Kishimoto || art edited by: me
.

#

.

Mempercayai Takdir

[mebutuhkan sesuatu yang membuat perasaan mati untuk selamanya]

oleh: faria

.

#

.

Sudah tidak terhitung lagi berapa waktu yang kau habiskan untuk memandang sosok pemuda berambut pirang itu dari kejauhan. Tapi kau tidak pernah lelah. Membiarkan mata ungu keparakanmu hanya terpaku di satu titik sejak bertahun-tahun lalu.

Lupakan air mata, kau bahkan mengobral darahmu hanya demi pemuda itu. Hanya demi seorang Uzumaki Naruto.

Dulu, ketika masih menyandang titel murid akademi, kau mampu merasa sedikit berbangga hati menjadi satu-satunya yang menambatkan mata ke sosoknya. Sosok Uzumaki Naruto yang selalu gagal, yang selalu sendiri, yang selalu diacuhkan orang-orang.

Namun itu hanya sementara.

Menginjak masa-masa genin, Uzumaki Naruto mulai membiarkan matahari menyinari langkahnya. Kau sedikit terkejut ketika orang-orang mulai menaruh perhatian padanya, kan?

Tutupi saja segalanya dengan senyum malu-malu dan wajah merahmu, tapi segalanya jelas—kau mulai cemburu.

Ingatkah bahwa kau adalah salah satu yang terlambat mengetahui kehebohan ketika Uchiha Sasuke meninggalkan desa? Ketika kau mengetahuinya, Uzumaki Naruto sudah terbaring aman dalam perawatan.

Kau pasti menyadarinya, kan? Uzumaki Naruto tidak akan pernah menyadari perasaanmu. Tidak akan. Karena sejak saat itu, yang terpantul dalam mata biru safirnya hanyalah punggung Uchiha Sasuke, yang haus akan dendam.

Uchiha Sasuke selalu sempurna. Kau bahkan menyadari bahwa kau tidak akan mampu menyejajarkan namamu di samping namanya.

Uzumaki Naruto kembali dengan tangan kosong, tanpa sedikit pun berhasil membawa Uchiha Sasuke kembali. Ketika itu, bukankah terselip perasaan lega di hatimu? Kau senang, kan? Kau berharap Uzumaki Naruto akan menyerah dan melupakannya, kan?

Setelahnya, kau mati-matian mencoba memanfaatkan waktu yang bisa kau dapatkan untuk berada lebih dekat dengan Uzumaki Naruto. Misi-misi kecil yang hampir selalu gagal diselesaikan, hanya karena terbawa suasana bersama Uzumaki Naruto.

Lupakah kau akan nama besar Hyuuga di depan namamu? Apa yang orang katakan mengenai putri tertua klan Hyuuga yang bahkan tidak becus menyelesaikan misi tingkat C untuk genin?

Kau seharusnya mulai belajar menghadapi kenyataan ketika Uzumaki Naruto pergi meninggalkan desa bersama seorang sannin terkenal. Semestinya saat itu kau segera paham bahwa nama Uchiha Sasuke tidak bisa dienyahkan dari pikiran Uzumaki Naruto.

Dua setengah tahun adalah waktu yang panjang untuk membunuh perasaan sia-sia itu. Tapi kau tidak melakukannya.

Seperti rambut indigo-mu yang memanjang sempurna, perasaanmu terus tumbuh dan kau jaga dengan baik. Terus, terus, hingga akhirnya kau bertemu dengannya kembali.

Apa kau mengira Uzumaki Naruto akan terpesona memandangmu, lalu melupakan Uchiha Sasuke dan bersanding denganmu?

Seharusnya kau mengerti bahwa takdir sudah memberikan semua pertandanya bagimu. Waktu yang kau habiskan untuk memandangnya setelah itu menjadi sia-sia. Uzumaki Naruto kembali ke desa hanya untuk mengingatkan semua orang bahwa Uchiha Sasuke akan dibawa pulang cepat atau lambat.

Kau tahu itu.

Betapa besar usaha yang kau lakukan untuk menyembunyikan perasaanmu sendiri ketika kau terlibat dalam misi yang berkaitan dengan pencarian Uchiha Sasuke. Luar biasa, kau mampu melebur kecemburuanmu menjadi byakugan sempurna yang bermanfaat untuk mendekatkan langkah Uzumaki Naruto dengan Uchiha Sasuke.

Itu konyol.

Ketika desa sedang terdesak, kau menemukan sekali lagi dirimu terbius oleh Uzumaki Naruto yang datang sebagai pahlawan penyelamat. Kau tidak perlu mengucapkan kata bangga, karena sesungguhnya di dalam hatimu terdapat keegoisan. Semakin bersinar Uzumaki Naruto, semakin banyak mata tertuju padanya. Kau tidak suka itu, kan?

Lalu kau membiarkan darahmu mengalir begitu saja, mencoba agar Uzumaki Naruto menoleh padamu. Kau tahu bahwa itu sia-sia saja. Untuk membuat Uzumaki Naruto menyadarimu, kau butuh pengorbanan nyaris sebesar nyawamu. Jika kau ingin Uzumaki Naruto berpaling padamu, pengorbanan apa yang bisa kau bayar?

Masihkah kau tidak percaya bahwa takdir sudah memperingatkanmu?

Kemudian segalanya berlangsung begitu cepat. Kau tidak lagi bisa mengerti bagaimana Uzumaki Naruto menjadi penyelamat tidak hanya di mata desa sendiri, tapi di seluruh mata dunia ninja. Kebanggaan yang dulu bisa kau selipkan di balik wajah kemerahanmu runtuh, kan?

Lihat berapa banyak sainganmu sekarang, bisakah kau mengalahkan mereka semua? Ah, tapi sebenarnya sainganmu hanya seorang saja. Yang tidak mungkin bisa kau kalahkan.

Kau tidak lagi bisa menyembunyikan gurat kekecewaan saat kau melihat sosok Uchiha Sasuke berjalan di samping Uzumaki Naruto yang tersenyum begitu cerah. Senyum yang kau tahu tidak akan pernah ditunjukkan kepadamu.

Lalu kau mulai menangis.

Tapi sudah terlambat. Takdir tidak lagi memberimu ruang untuk melarikan diri dari kenyataannya. Kau sudah membuang kesempatan itu di tahun-tahun sebelumnya—berkali-kali hingga takdir tidak lagi mengasihanimu.

Dulu kau bisa dengan manis dan cerah mengagumi mimpi Uzumaki Naruto menjadi Hokage. Namun ketika segalanya terjadi di hadapan mata perak keunguanmu, kau hanya bisa menampakkan senyum palsu di depan semua orang.

Menyedihkan.

Kau tidak lagi bisa berpikir jernih untuk membangun kehidupanmu sendiri. Tahun-tahun yang kau sia-siakan percuma untuk pemuda itu kini menjadi bumerang bagimu. Kau melupakan klan Hyuuga—melupakan posisimu sebagai anak tertua yang suatu saat akan mengambil alih pimpinan klan.

Percuma memberontak. Takdir sudah merantaimu bersamaan dengan mata perak keunguan yang tertanam indah di ceruk wajahmu.

Masih bisakah kau memunculkan harapan dan mimpi kanak-kanakmu akan seseorang bernama Uzumaki Naruto yang kini sudah tidak terjangkau olehmu? Setelah semuanya terjadi, setelah kedewasaan menamparmu dalam kenyataan hidup seorang ninja?

Menangislah, hingga kau bosan. Tataplah pemuda itu dan kehidupan barunya yang bersinar, hingga kau muak. Lalu akuilah takdirmu.

Sekarang kau duduk di sana seperti sebuah boneka tidak bernyawa yang memandang hampa pada segalanya. Kau hanya menjawab sopan segala perintah ayahmu, memberikan salam pada seluruh klan Hyuuga.

Kau tidak bisa lari. Kau tidak punya pilihan, karena sejak awal takdir sudah memilihkannya untukmu.
Seluruh mata perak keunguan di ruangan ini menuju pada sosokmu yang anggun dalam balutan kimono putih dengan gurat-gurat ungu pucat. Kau tidak lagi memandang sosok ayahmu yang menjadi saksi bagi pengakuanmu terhadap takdir.

Kau mencoba kuat, mencoba menjadikan dirimu boneka ber-kimono yang anggun dan tidak berekspresi, namun percuma. Seharusnya kau bisa melihat saat bola matamu memancarkan geliat penderitaan.

Kau tahu persis ayahmu menyadarinya. Kau tahu bahwa seluruh klan Hyuuga di ruangan ini menyadarinya. Seisi desa mengetahui perasaanmu pada pemuda itu. Semua tahu—kecuali pemuda itu sendiri.

Tapi tidak ada yang mencoba menyelamatkanmu dari tempat ini.

Ini bukan dunia mimpi, Tuan Putri. Kau seharusnya sudah membuka mata sejak lama. Di sini, tidak segalanya berakhir dengan bahagia. Kau seharusnya sudah lama mengetahuinya, jika saja kau mau mendengarkan suara takdir.

Suara ayahmu menggema, membacakan janji dan sumpah yang harus kau ulangi dengan suaramu sendiri.

"Apakah kau, Hyuuga Hinata, bersedia menerima Hyuuga Neji sebagai suamimu, baik dalam keadaan suka maupun duka, dan bersumpah terus di sampingnya hingga kematian menjemput?"

Ya, ini giliranmu.

Kau mulai membuka bibirmu. Ah, lihat betapa bibir merah muda itu bergetar. Lihat betapa kedua mata indahmu mulai menjerit meminta air mata diizinkan mengalir.

Semuanya tidak akan sesulit ini, jika saja kau mau mendengarkan takdir.

"Aku bersedia."

Setetes air mata mendarat di kimono putihmu.

Ya. Seandainya saja kau mau memalingkan wajahmu sedikit saja dari pemuda itu, dan mengizinkan takdir berbicara pedamu, kau akan mengerti. Kau akan memahami lalu menerima segalanya sebagai sesuatu yang kau percaya menjadi kehidupanmu.

Seperti aku mempercayai takdirku ini, Hinata Sama.

.

#

.

Sebesar apapun aku mencintainya, ia tidak pernah berpaling padaku.
Sebesar apapun aku menginginkannya, ia tidak pernah membalas cintaku.
Bahkan ketika aku mampu merantai raganya tepat di sampingku, hatinya tidak pernah bisa menjadi milikku.
Aku tidak pernah meragukan takdir, maka aku bisa menerimanya.
Kita berada di posisi yang sama. Seharusnya sekarang kau bisa mempercayai takdir bukan, Hinata Sama?

.

#

.

.end.
.

[Fanfiksi]: Batas Hujan

Friday, June 17, 2011

Sebuah fanfiksi. Di-publish di fanfiction.net pada 15 September 2010. Dianugerahi sebagai The Best Canon/In Character Fanfiction for Oneshot dalam Indonesian Fanfiction Awarads 2010.
Fandom: Bleach
Karakter: Kurosaki Ichigo; Kuchiki Rukia
Genre: Drama, Angst
Ringkasan: "Aku hanya roh. Kau manusia. Kita tidak bisa." Satu yang mereka tahu hanyalah bahwa hujan akan membatasi sampai mereka bertemu kembali.
Bleach [character and art]©Kubo Tite || art edited by: me
.

#

.

Batas Hujan

[Manusia. Roh. Janji]

oleh: faria

.

#

.
Ketika mereka bertemu kembali, segalanya sudah usai.

Segalanya usai—Perang Musim Dingin, konspirasi, dendam, juga kisah-kisah. Ikatan yang menghubungkan mereka sudah usai. Maka mereka tahu, ketika mereka bertemu kembali, segalanya akan menjadi yang terakhir.

Rasanya seperti kembali saat perjumpaan pertama mereka. Pemuda berambut oranye dan gadis berambut hitam. Seragam sekolah dan hakama hitam. Mungkin yang berbeda hanya hujan rintik yang membatasi sosok mereka ketika berdiri di tepi sungai kota Karakura.

Keheningan itu akhirnya terpecahkan di tengah senja suram yang basah. "Semuanya sudah selesai."

"Ya."

Tidak ada saling memandang. Mereka paham, saling melihat eksistensi satu sama lain hanya akan menambah luka yang ditorehkan realita. Meski gemuruh di dalam hati seolah tak tertahankan, mereka bertahan memakukan pandangan pada air sungai yang beresonansi tersentuh titik hujan.

Baik pedang maupun tas sekolah, keduanya mulai basah. Tetapi, baik rambut hitam maupun oranye, tidak ada yang berniat peduli untuk memayungi diri. Hanya berdiri bersisian, memandang titik imajiner di horison kelabu.

"Kau tahu, Rukia?" Suara si pemuda nyaris tertelan hujan.

"Aku tahu," si gadis memotongnya.

"Aku belum selesai."

"Aku tahu."

Jeda.

"Ya. Kau tahu."

Percakapan itu menjadi sesuatu yang tidak perlu. Mereka tahu, saling memahami apa yang ada di dalam hati seperti memantulkan isi diri sendiri. Namun keduanya setuju tanpa kata: mereka ingin bicara. Mungkin hanya ingin mendengar suara satu sama lain.

Karena ini akan menjadi yang terakhir.

"Kau akan kembali?"

Gadis berambut hitam menelan jawabannya. Untuk sejenak, ia tidak yakin tempat mana yang dimaksud pertanyaan itu. Kemudian senyum getir. Seharusnya ia tahu tempat mana yang dimaksud.

"Ya," jawabnya. "Soul Society adalah rumahku." Untuk suatu alasan, si gadis merasa berbohong.

"Lalu kau akan kembali?"

Sesaat, pertanyaan itu seperti serupa dengan sebelumnya. Namun gadis berambut hitam mengerti. Ia tahu, kali itu, tempat mana yang dimaksud.

"Tidak." Saat itu, si gadis bersungguh-sungguh.

Hening.

Jika si pemuda bertanya alasan, maka itu dilakukan hanya untuk bersuara semata. Jauh di dalam, segalanya sudah jelas, dugaannya tidak akan keliru.

"Kenapa?" Tetaplah terucap.

"Kau tahu kenapa," si gadis membalas.

Rintik hujan mengisi keheningan sesaat itu. Gadis berambut hitam memandangi sesuatu yang tak dipahaminya. Ia tahu pemuda di sampingnya tahu. Mereka tahu alasannya. Namun seperti si pemuda tetap bertanya, si gadis tetap menjawabnya.

"Soul Society akan memastikan tidak lebih jauh melibatkan Kota Karakura. Sudah cukup. Menjaga keseimbangan jiwa di dunia adalah tugas kami. Melibatkan lebih dalam manusia hanya akan mengacaukan alur yang ada." Si gadis berhenti sebentar. "Meski manusia itu mungkin sudah terlibat… tapi tidak ada kata terlambat untuk menghentikannya."

Tidak satu pun dari mereka yang berniat memperpanjang pembicaraan itu. Mungkin alasan itu memang nyata, namun mereka mengetahui alasan yang lebih fundamental di balik semua itu—alasan yang sebisa mungkin tak ingin mereka suarakan.

Tetapi mereka tahu, cepat atau lambat, alasan itu akan terucap.

Entah sejak kapan titik hujan menjadi semakin rapat dan besar. Kelabu nyaris menjadi hitam, dan bau basah menjadi kuat. Pakaian menempel ke kulit, helai rambut lunglai akibat berat air. Mereka masih tidak bergerak.

Pemuda berambut oranye mengepalkan tangannya begitu saja. Suara rendahnya beradu dengan gemercik air di udara. "Rukia, aku—"

"Jangan," si gadis memotong cepat. "Jangan katakan, Ichigo."

Dan mereka saling tahu, si pemuda tetap akan mengatakannya, seperti si gadis tetap akan melarangnya. "Aku mencintaimu."

"Jangan."

Terdengar konyol. Tapi mereka tahu itu benar. Seharusnya, itu benar. Sayangnya, tidak sekarang—tidak ketika segalanya sudah terlanjur dimulai dan berjalan.

"Kau tahu aku tidak pernah mendengarkan laranganmu, Rukia."

Si gadis tahu. Sejak dulu, sejak segalanya berawal, ia tahu. Dan ia juga tahu itu tidak akan berubah. Karena jika berubah, segalanya akan benar-benar berakhir.

Kalau bisa, gadis berambut hitam tidak ingin menjadi pihak yang mengucapkan alasan itu. Alasan yang jauh lebih realistis dari sekedar mengenai keseimbangan dunia jiwa. Tapi si gadis tidak punya banyak pilihan.

"Aku ini orang mati, Ichigo."

Pemuda berambut oranye terdiam. Ia tidak perlu mendengarnya, karena ia sudah memahaminya. Namun sekeras apapun hujan di antara mereka, suara si gadis terdengar juga.

"Aku hanya roh. Kau manusia. Kita tidak bisa."

Alasan itu terucap lebih cepat dari yang mereka duga.

Mereka sudah tahu. Sesungguhnya tidak perlu, tapi mereka merasa membutuhkan sesuatu untuk menampar agar mata mereka membuka. Tamparan itu mengenai mereka, namun ternyata mata mereka memilih tidak membuka.

Terkadang, menutup mata lebih baik dari membuka. Terkadang, menutup mata lebih mampu menunjukkan jalan untuk realita. Mereka berharap, dan tidak begitu sadar bahwa mungkin mereka akan memilih melalui jalan itu.

"Apa kau mau menunggu, Rukia?"

Kali itu, si gadis tidak benar-benar tahu. Untuk sesaat, ia tidak yakin bagaimana harus menegaskan hati dan membuat pilihan. Tapi ternyata bibir bergerak mendahuluinya, "Ya."

Senyum getir terlengkung di wajah pemuda berambut oranye. "Kudengar, ketika mati dan menjadi roh, seseorang akan kehilangan ingatan kehidupannya di dunia."

"Itu benar."

"Kalau begitu, mungkin aku akan melupakanmu."

Diam.

Mereka memang paham, saling melihat eksistensi satu sama lain hanya akan menambah luka yang ditorehkan realita. Tapi mungkin segalanya akan lebih baik. Semakin dalam luka itu, semakin besar bekas yang ditinggalkannya. Dan itu akan membantu mereka saling menusukkan kehidupan satu sama lain.

Jadi, untuk pertama kalinya sejak mereka berdiri di tempat itu, si pemuda menolehkan wajahnya. Pasang pandangan mereka bertemu.

"Meski begitu, kau akan tetap menungguku?"

Gadis berambut hitam mencoba berpura-pura, namun ia tahu itu tidak berhasil. Si pemuda pasti menyadari air mata yang bersembunyi memanfaatkan titik-titik hujan di wajahnya.

"Aku menunggumu."

Tidak ada kata 'akan'. Karena tanpa kata itu, segalanya akan menjadi fakta yang tidak berubah dalam waktu seperti apa pun.

Mereka berpandangan, saling melebur diri dalam eksistensi satu sama lain. Luka itu sudah tertoreh. Cukup dalam untuk meyakinkan bahwa mereka tidak akan saling melupakan.

Tidak ada saling menyentuh. Karena daripada memperdalam luka, sentuhan satu sama lain hanya akan menyembuhkan perih. Mereka paham, maka mereka memilih luka sebagai bayaran pengharapan.

"Kau tahu, Rukia?" Suara si pemuda nyaris tertelan hujan.

"Aku tahu," si gadis memotongnya.

"Aku belum selesai."

"Aku tahu."

Jeda.

"Ya. Kau tahu." Senyum getir masih terhias di wajah pemuda berambut oranye. "Hujan ini tidak akan berhenti."

Mata gadis berambut hitam berhenti di tetes air yang deras menjadi dinding abstrak di antara wajah mereka. Si gadis meniru senyum di wajah pemuda di depannya. "Sudah kubilang, aku tahu."

"Ya."

Hujan menjadi sebuah kata ambigu, tapi tidak untuk mereka. Mereka tahu, mereka saling memahami. Dalam satu titik egois di sudut hati masing-masing, mereka ingin menjadi awan bagi satu sama lain. Sehingga tidak akan ada hujan selain untuk mengumandangkan nama satu sama lain. Sehingga hujan menjadi batas tipis yang menyatukan satu sama lain dalam basah kerinduan.

"Aku menunggu. Sampai kau menghentikan hujan ini, Rukia."

Anggukan pelan.

Dengan begitu, mereka saling menunggu.

Ketika mereka bertemu kembali saat ini, segalanya memang sudah usai. Mereka tahu, ketika mereka bertemu kembali saat ini, segalanya akan menjadi yang terakhir. Seperti segalanya, kehidupan juga akan usai. Kehidupan akan usai, namun tidak menjadi yang terakhir. Mereka tahu, akan ada lembaran yang baru.

Suatu saat nanti.

Mereka tidak tahu apakah lembaran mereka akan saling mengisi nanti. Mereka tidak tahu apakah luka yang membekas akan saling mengingatkan nanti. Satu yang mereka tahu hanyalah bahwa hujan akan membatasi sampai mereka bertemu kembali.

Ketika mereka bertemu kembali nanti, mungkin segalanya bisa dimulai dari awal lagi.
.

#

.
"It's better to hope than despair.
It's possible to go over the limit,
but nobody can do it easily."
(—Gete)

[Fanfiksi]: Sepasang Ayah

Thursday, June 16, 2011
Sebuah fanfiksi. Di-publish di fanfiction.net pada 14 Juni 2011.
Fandom: Bleach
Karakter: Kurosaki Isshin; Ishida Ryuuken
Genre: General, Friendship
Ringkasan: Perbincangan mendebatkan ayah mana yang lebih sialan, sepertinya adalah salah satu cara menghabiskan waktu di kota mati.
 Bleach [character and art]©Tite Kubo  || art edited by: me

.

#

.

Sepasang Ayah

[asap rokok. perang musim dingin. anak-anak yang nyaris mati]

oleh: faria

.

#

.

Asap rokok.

Putih. Lantai, langit-langit, pintu, seprai, tirai. Segalanya putih.

Matanya terpaku ke luar jendela—biru cerah. Namun dingin. Hawa mengerikan yang bisa membuat siapa pun mati tanpa sadar.

Pertarungan besar. Perang.

Dingin.

Ya, perang di musim dingin.

Asap rokok lagi.

Ia tidak ingin terlibat—tidak lagi.

.

.

.

Pintu terbuka, menampakkan sosok berpakaian hitam yang tampak serius—tidak seperti biasanya.

“Untuk apa kau datang,“ suara dingin menyapa dari balik meja, “Kurosaki?”

Pria berjanggut menyunggingkan senyum tipis. “He? Apa kepalamu terjeduk meja sehingga tumben-tumbennya menyebut namaku dengan benar seperti itu?”

Pria di balik meja menghentikan gerakan menulisnya. Dari balik kacamata bening, ia memandang tajam sosok yang melangkah di dekatnya. “Jangan besar kepala hanya karena kekuatanmu sudah kembali,” ia menjawab datar.

“Che. Bahkan di saat seperti ini kau tetap tidak berubah, Ishida,” pria berjanggut berdiri di dekat meja putih yang tampak kaku.

Hening.

Pria berjanggut merogoh bagian dalam pakaian hitamnya, mengeluarkan sebungkus rokok dan sebuah pemantik perak.

CLING.

Asap rokok.

Tawa tipis dari pria berjanggut. “Kupikir kau akan memanahku karena merokok di dalam rumah sakit,” ujarnya seraya melemparkan rokok dan pemantik ke hadapan pria di balik meja.

Pria di balik meja, berkacamata, dengan tenang mengambil satu rokok dari yang ditawarkan padanya.

“Panah Quincy-ku tidak untuk memanah segala hal,” balasnya.

Si pria berjanggut membiarkan senyum ‘percaya’ mengembang di wajahnya. “Sulit dipercaya kau masih mengerjakan paperwork dalam keadaan seperti ini.” Satu hembusan.

Pria berkacamata menyandarkan tubuh ke kursi dan mulai menyalakan rokoknya. “Apa yang kalian lakukan, tidak ada hubungannya denganku.”

Langkah-langkah bergema di ruangan segiempat itu, si pria berjanggut mendudukkan diri di atas dipan berseprai putih. Dari tempat itu, si pria berjanggut mengamati punggung pria berkacamata—dan rambut perak kebiruannya.

“Kau hanya lari dari segalanya, bodoh,” pria berjanggut bicara tenang.

Jeda.

Lalu balasan sarkastis, “Ternyata aku bicara dengan seseorang yang tidak lari dari segalanya.”

Tawa tipis.

Si pria berkacamata menghisap rokoknya dalam-dalam, lalu menghembuskannya seraya memandang langit-langit. “Kecuali, kau kemari untuk membanggakan diri bahwa kau akan berhenti lari dari segalanya,” ia berujar.

Asap rokok.

“Kau membuatnya terdengar seperti: segalanya sudah terlambat,” pria berjanggut membalas.

“Keajaiban lain bahwa kau bisa menerjemahkan kata-kataku, Kurosaki.”

Dipan berderit sedikit ketika pria berjanggut menyamankan duduknya.

“Dan keajaiban lain bahwa hari ini kau tampak begitu senang berbicara, Ishida.”

Kursi memutar, membiarkan pria berkacamata memandang tajam pria berjanggut.

Asap rokok lagi.

Pria berjanggut memandang keluar jendela. Ilusi langit biru yang tenang dan damai menjadi bagian yang memperindah ruangan putih itu.

“Tidakkah kau khawatir pada kondisi kota ini? Seingin apapun kau mengabaikannya, tetap saja kau tahu apa yang terjadi di luar sana, kan?” Pria berjanggut bicara tanpa melepaskan pandangan dari suatu titik di jendela.

Pria berkacamata mengadahkan kepalanya ke atas langit-langit. Tidak biru, tentu—itu putih. “Sudah kukatakan,” ia mulai, “apa yang kalian lakukan, tidak ada hubungannya denganku.”

Tak tampak satu pun awan, dan mata pria berjanggut mulai jengah. “Dan kau tahu putramu sudah terlibat dalam semua ini.” Ia akhirnya berhenti memandangi jendela.

Untuk pertama kalinya di ruangan itu terdengar tawa tipis dari bibir yang lain. Pria berkacamata tampak tidak begitu peduli bahwa ia seperti keluar dari karakter. Salahkan pria berjanggut itu—kini ia benar-benar konyol.

“Sesuatu yang keluar dari mulut seorang ayah yang membiarkan putranya di depan maut tanpa memberitahu apa pun. Lucu sekali.” Sarkasme yang lain.

Kursi berputar lagi. Pria berkacamata kembali pada kertas-kertasnya di meja, sesekali menghembuskan rokoknya dengan tenang. Pria berjanggut mengamati. Tapi diam.

Perbincangan mendebatkan ayah mana yang lebih sialan, sepertinya adalah salah satu cara menghabiskan waktu di kota mati. Untuk suatu alasan, kedua pria merasa ingin tertawa di hati masing-masing.

“Kau sendiri membiarkannya pergi, setelah memberinya kekuatan. Bahkan setelah memaki kau tidak peduli dengan darah keluargamu.”

“Kita sudah pernah membicarakannya. Dan kau sendiri berpura-pura tak melihat, ketika ia kembali dengan darah di sekujur tubuh. Bahkan berakting seperti orangtua bodoh yang terlalu ceria.”

Dialognya sungguh menjadi pemanas di musim dingin seperti sekarang. Frustasi dalam wujud kata-kata adalah cara memaafkan diri sendiri, sepertinya.

Diam.

Asap rokok.

Pria berjanggut tertawa pahit. “Apakah menurutmu aku benar-benar ayah yang payah?”

Jeda.

Pria berkacamata berhenti dari kertas-kertasnya. Menyandarkan tubuh di kursi, memandang langit-langit putih. Kali itu asap rokok tak terhembus keluar. Lalu ia membuka suara, “Hampir setara denganku, mungkin.”

Di luar sana semakin dingin.

Bukan saljunya—belum ada salju. Mungkin yang ada serpihan es. Kadang-kadang api—atau mungkin ledakan. Semakin ramai di luar sana. Meski jauh, tetap saja terasa.

Tapi memang semakin dingin.

“Kau yakin tidak mau pergi?” Pria berkacamata tak menyebutkan jelas arah yang dimaksudnya. Tidak perlu—mereka berdua sama-sama mengerti.

“Entahlah.” Itu menutup segalanya.

Pria berkacamata menghembuskan rokoknya untuk terakhir kali, lalu melempar batang rokoknya ke tempat sampah bundar di dekat meja. Tangannya lalu mulai bergerak lagi.

“Sampai kapan kau akan di sini?” Terdengar pria berjanggut berujar, merebahkan diri di dipan putih.

Tetap menulis, tidak menoleh. “Aku tidak sudi terlibat dengan kalian.”

Itu bukan jawaban. Tetap, pria berjanggut mengabaikannya; seperti pria berkacamata tahu bahwa pria berjanggut akan pergi—cepat atau lambat.

Mereka mengabaikannya.

Bukankah segalanya sudah terlalu lama? Mereka berdua sama-sama sudah bersembunyi terlalu lama. Membuang harga diri sebagai orang tua di depan anak-anak yang berjuang. Bersembunyi, terkekang masa lalu.

Sudah terlalu lama.

Mereka tidak saling menatap. Yang satu menatap kertas, tenggelam dalam menulis. Yang satu menatap langit-langit, berkubang dalam asap rokok. Tapi keduanya sama-sama tahu.

Mereka adalah sepasang ayah munafik.

Penuh sandiwara, berlaku seperti mengabaikan segalanya. Yang satu polos seperti tak tahu apa-apa, yang satu garang seperti benci segalanya; padahal mereka peduli. Siapa yang merokok di balik dinding pencakar langit ketika makhluk-makhluk berpakaian putih menghunuskan pedang? Siapa yang merokok di balik batang pohon ketika makhluk berwujud ganjil menghindari serangan pembelaan diri?

Asap rokok saksinya.

Mereka adalah sepasang ayah sialan.

Bersikap seperti tak ada apapun. Mencium bau darah, melihat goresan luka, mendengar benturan; mengetahui redupnya energi kehidupan anak-anak mereka. Siapa yang merokok di depan nisan dan meminta maaf lewat pandangan mata? Siapa yang merokok di depan simbol keluarga dan meminta maaf lewat pantulan kacamata?

Asap rokok saksinya.

Mereka adalah sepasang ayah sinting—dua laki-laki yang mengirim anak-anaknya menuju mati.

“Hei—” Keheningan itu dipecahkan oleh pria berjanggut yang masih berbaring mengamati sesuatu di langit-langit.

Pria berkacamata berhenti di baris ke sekian dari kertas penuh tulisan di tangannya. “Apa?” tanyanya.

Pria berjanggut menghembuskan asap rokok, tersenyum pahit begitu saja. “Kota ini bisa saja hancur.”

Hening.

Kertas beralih ke tumpukan seharusnya, karena tangan pria berkacamata memilih mengapit batang rokok di bibir. “Perlu berapa kali kuulangi?” Suara dingin terdengar. “Apa yang kalian lakukan bukan urusan-ku.” Pria itu mendengus.

Pria berjanggut bangkit untuk duduk. “Keras kepala,” komentarnya. Satu hembusan lagi, lalu pandangan pria itu menerawang. “Jangan iri kalau aku sudah berhenti jadi ayah sialan nanti—“

Hening beberapa saat.

“Bodoh.”

Tawa hambar dari pria berjanggut. Tidak ada balasan lagi, semata karena mereka saling memahami segalanya.

Sudah terlambat.

Mereka sudah terlalu sialan untuk berhenti.

Pria berjanggut menjulurkan tangan untuk membuka laci meja putih kecil di sisi tempat tidur. Ia mengeluarkan secarik kertas, dan mengambil sebuah pena.

Pria berkacamata menghembuskan asap rokoknya untuk terakhir kali sebelum membuang batang putih itu ke asbak bening di mejanya. “Kau akan membuatnya semakin kacau jika kau berterusterang sekarang,” ia berujar.

Terdengar corat-coret pendek. Pria berjanggut menuliskan sesuatu, dan menarik sudut bibirnya sedikit. “Aku tahu,” balasnya.

Kursi pria berkacamata sedikit berderit. “Kau masih tidak lebih sialan dariku,” gumamnya.

Pria berjanggut selesai dengan tulisannya. Pandangannya beralih ke punggung pria berkacamata yang terbalut jas putih. “Tidak juga,” ujarnya.

Perdebatan absurd yang lain.

Dentuman di kejauhan sedikit bergema keras melalui getaran kekuatan. Dua pria itu mengabaikannya. Perang yang sesungguhnya membuat hati teriris. Untuk darah daging yang berada di garis terdepan dan redup energi kehidupannya.

Pria berjanggut menyunggingkan senyum getir, sebelum meletakkan kertas yang ditulisnya di atas dipan berseprai putih. “Kita harus menghentikan semua ini,” ia berujar tipis.

Diam.

Untuk pertama kalinya, pria berkacamata terlihat tidak menentang ucapan pria di belakangnya. “Aku tahu,” ujarnya pelan.

Mereka tahu.

Suatu saat—mungkin tidak lama—mereka harus menghentikan semua kepura-puraan itu. Semua kekacauan yang membuat mereka adalah sepasang ayah sialan.

Segalanya.

Ketika pria berjanggut menyelinap dengan shunpo meninggalkan ruangan putih itu, pria berkacamata mengeluarkan rokoknya yang baru.

CLING.

Asap rokok.

Pria berkacamata melirik kertas kecil di atas dipan putih yang kosong. Kemudian pandangan pria itu beralih ke langit yang tampak—entah sejak kapan—kelam.

Hembusan lagi.

“Bodoh,” sahutnya entah pada siapa.

Mungkin pada dirinya sendiri—atau pada ayah lain yang sama sialan dengannya. Yang mana pun, tidak menghentikan dingin dari perang di atas sana.

Asap rokok lagi.

Kota sudah hampir mati.

.

.

.

Kota mati.

Perang di musim dingin.

Asap rokok.

Dan untuk tidak ingin terlibat, sesungguhnya ia sudah begitu terlibat.

Untuk segala dingin yang menusuk di ruangan putih; untuk darah daging yang berada di tengah perang, yang hanya tahu kebohongan dan kebencian; untuk segala yang membuat ia—mereka—adalah sepasang ayah yang payah; ia membuangnya.

Ia membuang rokoknya.

Setidaknya sampai semua perang itu selesai.

Hanya tinggal menunggu, setelah semua perangnya, ayah mana yang jadi lebih sialan?

.

.

.

Mungkin… ia akan mencoba sedikit berubah setelah segalanya selesai.

Mungkin.

.

.

.

“…What a shitty dad.”
“Just trying to one-up to you.”
“…Yeah… I get it.”

[Kurosaki Isshin dan Ishida Ryuuken
—Bleach 241: Silver Flame]

.

#

.

.end.

.

Lembar Dua

"...instead of regretting about the past,
what's most important is to change the present
for the future." [—The Fairy, Proposal Daisakusen]
帰路 (c) 36

Belakangan ini, banyak hal yang saya pikirkan. Kekosongan waktu yang sedikit lebih banyak dari biasanya membuat berbagai untaian tema menari di kepala saya. Bukan—kali ini bukan mengenai memori maupun masa lalu. Kali ini mengenai masa sekarang.

Ironis. Saya baru saja selesai dengan sebuah dorama Jepang berjudul Proposal Daisakusen dan 24 episode anime Fate/Stay Night—keduanya adalah hasil rampokan dari seorang teman. Dua kisah yang sama sekali berbeda. Yang satu drama bertema real-life fantasy dengan unsur humor dan persahabatan yang kental. Begitu hangat—terlalu hangat sampai membuat saya hampir muak. Yang satu animasi bertema supernatural fantasy dengan unsur action berbumbu romens. Begitu tidak nyata—terlalu tidak nyata sampai mengingatkan saya akan mimpi. Bagaimanapun, di akhir, kedua kisah itu menyampaikan sebuah pesan yang hampir sama, yang saya simpulkan sendiri:

--Bagaimanapun kau mengubah masa lalu, semua perubahan itu tidak ada artinya untuk masa depan—kecuali kau berani mengubah dirimu sekarang.

--Kau tidak bisa mengulang sesuatu yang kau lakukan di masa lalu. Kau bisa saja kembali ke masa lalu, tapi apakah itu yang benar-benar kau inginkan? Mengapa kau tidak berharap untuk masa sekarang—untuk senyummu di masa depan?

How ironic, really. Karena itulah yang tengah berputar di kepala saya selama beberapa waktu terakhir. Banyak hal yang saya lalui, banyak kebingungan yang saya temui, dan banyak kesedihan yang saya tangisi. Segalanya membuat saya merasa seperti tidak sedang menjadi diri saya sendiri. Lama sekali rasanya—berapa?—dua tahun? Tanpa akhir, pikiran-pikiran ini.

Entah bagaimana, belakangan ini saya merasakan suatu ketenangan batin yang menentramkan. Dalam sela-sela kesendirian, saya mulai berpikir ulang tentang banyak hal. Tentang keputusan-keputusan, kemarahan-kemarahan, kesedihan-kesedihan, dan sedikit kenangan-kenangan.

Saya baru menyadari sesuatu. Dalam beberapa waktu terakhir, saya merasa seperti sedang menyiksa diri sendiri dengan melakukan banyak kesalahan dalam kehidupan. Seolah semua pilihan kehidupan yang saya ambil kebetulan mengantarkan saya hanya pada kegelapan. Namun—ini baru saya sadari, ternyata setelah semua yang saya alami, saya tidak pernah menyesali segalanya.

Tidak pernah sekali pun, saya menyesali pilihan-pilihan kehidupan yang saya ambil. Saya menangis, ya—tapi saya tidak pernah berpikir seperti: ‘Seandainya saja dulu aku…’. Tidak pernah. Dan saya begitu terkejut bahwa ternyata saya tidak senista apa yang saya anggap selama ini.

Konyol sekali (dan saya mengetik ini dengan senyum pahit, sungguh). Begitu banyak waktu yang saya habiskan untuk menangisi sesuatu yang bahkan saya sendiri tidak mengerti. Lalu, sekarang, begitu saja sesuatu seperti mengisi hati saya dan seolah menenangkan saya atas segala pikiran-pikiran absurd ini.

Tidak, ini bukan fanfiksi. Saya yang paling tahu seberapa sering tema dan diksi semacam ini termanifesti dalam karya saya. Sulit dipercaya saya benar-benar mengalaminya sendiri. Memang abstrak, benar.

Sekarang—apa? Ada banyak hal yang ingin saya inginkan. Sebagian besar di antaranya adalah hal-hal yang sebelumnya saya label tabu dalam prinsip hidup. Dulu—beberapa waktu lalu?—saya akan menangisi diri sendiri karena bisa-bisanya menginginkan sesuatu yang tidak boleh. Tapi sekarang—ya, detik ini—agaknya saya merasa lebih tenang dan mulai memandang dari sudut yang berbeda.

Segala hal berubah.

Dunia—dan saya. Perubahan selalu menjadi sesuatu yang saya benci diam-diam—fakta ini juga baru saya temukan beberapa waktu lalu dalam sebuah perjalanan mengeluarkan semua memori kehidupan dalam bentuk tulisan. Saya selalu takut dan menghindari perubahan.

Saya tahu itu. Kegelisahan tanpa akhir ini adalah bentuk kekhawatiran terhadap diri sendiri. Saya tahu—karena saya mulai berubah. Terlalu banyak hal yang berbeda, dan saya membenci diri saya karena itu.

Itu masa lalu. Lembar kemarin.

Namun ini bukan kisah drama. Saya tidak bisa begitu saja menerima perubahan. Namun saya tahu—ya, saya yakin—sesuatu sedang mengikis idealisme tak berdasar di hati saya ini.

Saya ingin berdiri di masa sekarang—tempat dimana saya masih tetap bisa memandang jejak saya di masa lalu dan mengagumi bentangan keindahan yang menjadi misteri masa depan. Saya bisa saja menangisi masa lalu, atau berharap segalanya berubah—tapi saya sesungguhnya tidak benar-benar ingin kembali.

Jika merasakan hembusan angin, seraya berjalan menyusuri jalan kampus yang teduh, yang ingin saya lakukan hanyalah tersenyum.

Saya merasa hidup.

Hidup memang selalu berputar. Jika ada seseorang yang mungkin selalu berputar di kepala saya selama setahun terakhir, dan kebetulan membaca tulisan ini, maka saya hanya ingin Anda tahu bahwa saya tidak menyesali segalanya. Ya, masa lalu itu memang menyedihkan, karena itu keputusan dan pilihan saya—atau Anda juga. Saya tidak ingin menangisi masa itu, atau berharap kembali. Saya pernah menulisnya, Anda tahu? Jejak hati. Biarkan jejak itu ada di belakang saya yang sekarang. Saya hanya ingin… jika suatu saat bertemu dengan Anda lagi, saya tahu bahwa segala yang sudah saya lalui tidak sia-sia.

Yang ingin saya ubah adalah masa sekarang—agar saya bisa tersenyum di masa depan.

Terima kasih Kehidupan, karena telah memutar kembali dunia saya dengan keindahan. Untuk saya yang sekarang, hanya butuh menjalani hari-hari dengan apa adanya.
“…Tell it to those who look at who we are now:
The ordinary every day is a miracle too
We ourselves are an unfolding miracle

What we should look for is not something ‘special’
It is the miracle right before our eyes
Called our ordinary days…”

[—Ikimono Gakari, Kokoro no Hana wo Sakaseyo]

Custom Post Signature

Custom Post  Signature