“Remember that wherever your heart is, there you will find your treasure.” (― Paulo Coelho, The Alchemist)

Showing posts with label abstract. Show all posts
Showing posts with label abstract. Show all posts

Lembar Sembilan: Lanskap Dalam

Monday, November 26, 2012
...tiba-tiba saja menemukan catatan tangan pada November 2008.
Baris-baris puisi tanpa judul; yang saya ingat benar, dicatat karena maknanya yang begitu mengena.

Siapa yang kira, empat tahun berikutnya saya akan menulis hal yang sama?

水に棲む (c) katsuo
Lanskap Dalam

(Oleh Dina oktaviani)

Kucoba menuliskan sesuatu
Dan berdoa untukmu
Agar kamu dapat memaafkanku
Dari tempat yang jauh

Di kepalaku, barisan lagu-lagu
Yang akan mengikat diriku erat
Dengan bayanganmu

Kutatap lanskap di luar jendela;
Memanggil-manggil nafasmu
Yang begitu kukenal, tapi tak lagi
Menyentuh hidungku

Kesedihan musim hujan bertambah
Ketika ketel di dapur tak dapat
Mendengingkan uap, dan bocah lelakiku
Terpejam dalam kamar;
Menghisap dua jari tangannya

Kucoba mengkhayalkan
Pipimu yang hangat
Untuk menghapuskan
Derita dosa-dosa di bibirku

-bibirmu yang kupuja
Masihkah manis dan lembab
Malam ini?

Di dalamnya, aku tahu
Adalah kata-kata
Adalah pusat airmataku

Tetapi tetap kurindukan kamu
Bagai perjalanan mencekam
Sebuah kereta dari kota ke kota
Yang tak pernah dapat kuhentikan

Kucoba menuliskan sesuatu
Dan berdoa untukmu
Agar kamu dapat memaafkan
Cintamu kepadaku

Tetapi semua bahasa
Dan keyakinan
Lari dari kesunyianku

-mengapa kepala berada di atas jantung;
Hingga dadaku yang ringkih
Tak dapat mendebarkan telingamu
Tanpa merendahkan wajahmu?

Malam ini
Kelaparan merusakkan hatiku
Kemiskinan hati
Memerihkan lambungku

Tak ada orang lain di luar diriku
Kecuali orang-orang yang kucintai
Kecuali orang-orang yang menjauh
Dari diriku



...untuk lapar dan perih; dan air mata.

Lembar Lima: Sapaan untuk Matahari

Wednesday, July 20, 2011
陽光 (c) katsuo


Halo, Matahari.


Kamu hari ini... cerah seperti biasa. Meski hari ini aku melihat cahaya berwarna lain yang berpendar berbeda dari biasanya. Hm... apakah karena aku baru saja mengakui bahwa diriku lebih suka matahari daripada hujan?


Ah, dulunya kamu anggap aku terlalu menyukai hujan, eh? Aku suka, kok, hujan. Tapi ternyata aku lebih menyukai matahari. Sebenarnya akan sangat bagus kalau kamu sudi muncul sedikit di tengah hujan. Tapi tidak mungkin, ya? Kamu sangat bersinar dan cerah (dan bundar). Tetes hujan itu seperti akan menumpukmu, kan? Mungkin kamu takut aku menjadi lebih basah daripada berbau hangat (bagaimanapun, itu hujan)?


Tapi, tahukah kamu? Tetes hujan itu hanya butiran kecil yang tidak berarti. Aku mungkin akan basah, tapi aku tidak akan luput mengetahui kamu ada di tengah semuanya. Bagaimanapun, kamu sangat mencolok! Tetes-tetes hujan itu tidak akan berarti di depanmu! Itu bukan persaingan, tahu. Kamu menang mutlak!


Sayangnya kamu memang tidak suka disaingkan.


Kadang aku berpikir--apakah aku perlu membenci hujan selamanya untuk bisa memandangi kamu setiap hari? Kamu pasti bosan menunggu aku dan pikiran-pikiranku di sisi jendela. Selama kegiatan itu, aku tetap menikmati hujan, sebagaimana aku menikmati kamu. Kamu jadi membenciku, sepertinya.


Maaf ya, Matahari.


Sejak kamu pergi, aku jadi membenci malam. Padahal selama ini aku selalu menyukai malam dan bintang-bintangnya. Rasanya seisi duniaku terbalik! Seharusnya (ya, pasti seharusnya), aku tidak boleh bercakap-cakap denganmu. Kamu, mungkin kamu ditakdirkan untuk ada saja dalam hari-hariku, tapi tidak dalam kehidupanku. Soalnya mataku jadi selalu melihatmu!


Bagaimana kabar Langit? Kulihat kamu sudah berinteraksi dengan awan-awan lebih baik. Lihat, duniamu juga luas dan indah, kan? Apa sekarang aku masih ada di jangkauan hangatmu? Soalnya yang kupandangi akhir-akhir ini hanyalah cahayamu. Aku juga rindu hangat.


Sudah lama tidak hujan. Aku tidak lagi merindukan hujan. Mengejutkan. Kalau hujan tiba, aku rasanya ingin menutup rapat-rapat jendelaku dan bergelung di balik selimut. Aku ingin melihat kamu, bukan hujan. Mengejutkan.


Mengejutkan! Sejak kapan aku menjadi terlalu menyukai terang? Aku... aku bahkan tidak lagi terjaga untuk menunggu malam dan bulan. Aku lebih ingin tidur, di balik selimutku, lalu membuka jendela lagi nanti ketika aku bisa memandangimu.


Aku merasa konyol. Padahal kamu sudah tidak memandangku lagi. Mungkin aku hanya seperti perabot dalam duniamu. Seperti... pohon, mungkin? Atau seperti buah lemon di taman itu? Untuk bisa ada di pandanganmu, apakah aku harus mengalahkan sinarmu? Aku? Aku yang dikenal seperti Bulan di malam hari ini? Sulit sekali!


Eh, aku terlalu jauh.


Pokoknya, kurasa kamu perlu percaya bahwa aku lebih menyukaimu daripada hujan atau malam. Aku tidak ingin berharap kamu akan menoleh padaku! Berharap itu sama saja bersedia melepaskan. Kamu pasti ingat, kalau aku sudah berlari, aku tidak akan berhenti sebelum sampai di tempat yang kutuju.


Meski tempat yang kutuju adalah jarak jutaan cahaya?


Ya, meski itu kamu.


Matahari, siang ini aku belum mengamati perbedaan sinarmu lagi. Tapi ternyata memang, aku paling suka kamu di pagi hari. Karena warnamu lembut dan sinarmu hangat. Karena kamu tidak terlihat terlalu sulit digapai.


Hujan mengetuk pintu jendelaku sekarang. Aku mengabaikannya. Selamat tinggal, hujan. Selamat tinggal, malam. Sekarang aku sedang mencari dimana aku meletakkan sepatuku. Sebentar lagi. Aku tinggal memakainya dan berlari ke arahmu.


Tunggu ya, Matahari!

menyayat duka

Monday, May 30, 2011
menyayat duka

disclaimer: Luminous Lu via http://rinidwicahyanti.tumblr.com





aku mabuk kematian.
tanpa rasa.
darah. laut. laut.
luka menganga.

serpihan.
tajam. tajam. tajam.
semua yang sudah berlalu adalah sialan.
rendah hanya dengan mengharap.

kata yang sama.
wajah yang berbeda.
konyol. dusta.

aku ingin membunuh.
menguar anyir.
daging. kulit. mata.
nyawa terlupa.

pijakan.
semu. semu. semu.
di bawah kaki adalah sampah.
nista hanya dengan menjejak.

tawa yang nyata.
konsistensi.
sesal. maut.

bagaimana caranya mencabik hati?
pisau. tangis. jantung.

selamat tinggal.


ziafarah~29042011

Menangis di Kaki Tuhan

Monday, April 4, 2011
Memori itu luka
Menari perihnya
Abadi bekasnya

Dia yang mengingatkan
Saya yang enggan
Ilusi yang dipertahankan


Bukan, bukan tentang dia
Tentang saya
Saya yang dusta
Saya yang nista


Mengapa perih datang terlalu lamban?
Mengapa siksa  menunggu duabelas bulan?
Mengapa saya tenggelam dalam peran?
Mana jawaban Tuhan?


Rajutan hampa
Tisikan drama
Pecahan karma


Wahai saya yang menyedihkan
Apalagi yang bisa dilakukan
Selain menangis di kaki Tuhan?

Custom Post Signature

Custom Post  Signature