“Remember that wherever your heart is, there you will find your treasure.” (― Paulo Coelho, The Alchemist)

God Only Knows (lyrics)

Thursday, July 28, 2011
God only knows

[Opening 01 Kami Nomi zo Shiru Sekai]
Oratorio The World God Only Knows [Vocals: ELISA]



第一幕 Chapter 1
What I’m seeing……Is it real?
What I’m feeling……Is it real?
What I’m doing……Is it real?


There is no regrets, satisfy my curiosities
There is a new world waiting, explore my possibilities
There is no guarantee, just improve my abilities
<Go ahead with your own life – Is there any hope in your sight?>
There is a choice to make, setting the right priorities
<You will always be the one, so feel the power
And you should know the sun comes up – For you>


There is no regrets, satisfy my curiosities
There is a new world waiting, explore my possibilities
There is no guarantee, just improve my abilities
There is a choice to make, setting the right priorities


第二幕 Chapter 2
<What is the best you can do? How can you do?>
I was sitting and thinking the other day
<What is the best you can do? How can you do?>
If I fail, I won’t throw my passion away
<What is the best you can do? How can you do?>
Just ’cause giving up is not the only way
No matter how it’s gonna be, I’ll try it anyway


第三幕 Chapter 3
Love is such a sweet illusion (Let’s come together)
Can’t seem to stop my imagination (Goes on forever)
What a ridiculous situation (Another matter)
But I can’t deny, I’m faced with a tricky temptation
In the world that keeps on changing
Don’t know why my heart is aching
Gotta handle it, no more hesitation
There can be no turning back


God only knows
“My mind is as free as the wind
But now what I should do is to fall in love”
God only knows
“I don’t need that kind of real things
Feels like I’m lost in the labyrinth”
God only knows
“There must be the meaning of life
Somehow unexpected happenings thrill me”
God only knows
“Just believe in myself and my dream
Anyone could be a hero and heroine”
God only knows
“Though it’s not so easy to get through
Here I am, I’m sure that things will go my way”


God only knows
“My mind is as free as the wind
But now what I should do is to fall in love”
God only knows <Your own happiness, you can find it>
“I don’t need that kind of real things
Feels like I’m lost in the labyrinth”
God only knows <Your infinity, you can feel it>
“There must be the meaning of life
Somehow unexpected happenings thrill me”
God only knows <Opportunity, you can take it>
“Just believe in myself and my dream
Anyone could be a hero and heroine”
God only knows <Toward the future, you can make it>
“Though it’s not so easy to get through
Here I am, I’m sure that things will go my way”


第四幕 Chapter 4
<Sailing, you’re sailing away
And now it’s blowing, breeze will take you away>


I feel that my spirits rise
I will survive and just stay alive
Enjoy being alone, the isolation is not always so bad
Another day has gone by, every day goes by
In the sky, there’d be a bridge to a bright tomorrow


<You will find your treasure and share your pleasure
Let me tell you……>


第五幕 Chapter 5
<Just keep your vision, your dream, and your soul alive
Be as you are, I will always be right by your side>


Think about my love and my life
In an uncertain world, face to face with myself
Continue to make progress, day by day and step by step
I’ve got a good feeling
So I’m gonna keep on trying, life will go on……

終幕 Reprise
credit: awesmoe.wordpress.com

Kana Nishino - If (lyrics)

Wednesday, July 27, 2011
mono- (c) katsuo
 If

Kana Nishino


moshi ano hi no ame ga
If the rain had stopped
yonde itanara
That day
kitto sure chikatte itadakeka mo
I might surely have just walked past you
itsumo toori no jikan ni
If the bus had arrived
basu ga kitetanara
At its usual time
kimi to wa deau koto ga nakattanda ne
I wouldn’t have met you
moshi mo sukoshi demo
If that instant
ano shunkan ga zuretetara
Had been slightly different
futari wa chikatta unmei wo tadotte shimatteta
We would have walked on separate paths of fate


kimi to onaji mirai wo
I always want to watch
zutto issho ni mite itai
The same future together with you
onaji hoshi wo onaji bashou de
Let’s look at the same stars
mitsumete you yo
At the same spot
kimi no egaku mirai ni
I wonder if I am present
watashi wa iru no kana
In the future you imagine for yourself
onaji sora wo onaji omoi de
I want to look up to
miagete itai yo
The same sky with the same feelings


kuchiguse ya shigusa mo
Our ways of talking and acting
yoku nite kita futari
Are really similar
maru de zutto mukashi kara shitteru mitai da ne
It’s like if we have always known each other
douji ni meeru shitari
Mailing each other at the same time
onaji koto omottari
Thinking about the same things
akai ito de biki yoserareteru no kamo
We might have been bound together by a red thread
guuzen wa saisho kara
We fit so well together, like if
mou kimatteta mitai ni
It was decided by chance right from the start
kasanatta futari wa unmeitte shinjite iru yo
I believe we are fated to be together


kimi no egaku mirai ni
I wonder if I am present
watashi wa iru no kana
In the future you imagine for yourself
onaji sora wo onaji omoi de
I want to look up to
miagete itai yo
The same sky with the same feelings
kimi to onaji mirai wo
I always want to watch
zutto issho ni mite itai
The same future together with you
onaji hoshi wo onaji bashou de
Let’s look at the same stars
mitsumete you yo
At the same spot
kimi no egaku mirai ni
I wonder if I am present
watashi wa iru no kana
In the future you imagine for yourself
onaji sora wo onaji omoi de
I want to look up to
miagete itai yo
The same sky with the same feelings


tatoeba namida no hi mo
So we may always walk
hare no hi mo futari de
On the same path, hand in hand
onaji michi wo itsumade mo
Even on days filled with tears
te wo tsunaide arukemasu you ni
And on sunny days


kimi to onaji mirai wo
I always want to watch
zutto issho ni mite itai
The same future together with you
onaji hoshi wo onaji bashou de
Let’s look at the same stars
mitsumete you yo
At the same spot
kimi no egaku mirai ni
I wonder if I am present
watashi wa iru no kana
In the future you imagine for yourself
onaji sora wo onaji omoi de
I want to look up to
miagete itai yo
The same sky with the same feelings

credit: jpopasia.com

Lembar Enam: Peringatan, Kontribusi dan Dedikasi

Hm... siang ini membuka blog temanku dan menemukan entri dengan judul yang cukup... mengundang. Respon terhadap undangan Pleno MPM (yang sampai sekarang belum masuk ke HP-ku karena gangguan sinyal) yang cukup membuatku tertegun.

Surat Peringatan untuk Anggota MPM serta Publikasinya.

Bukan hanya kamu yang bertanya-tanya, temanku. Entah siapa, entah bagaimana. Apapun, agaknya Pimpinan kita berencana memberikan peringatan untuk kinerja yang sudah nyaris melebihi setengah tahun terakhir ini di lembaga tertinggi Ikatan Keluarga Mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Indonesia.

Membaca deret kalimatmu, teman, pertanyaan-pertanyaan timbul dalam benakku. Sebenarnya apakah arti kontribusi itu? Apakah dinilai dari peran kita semua dalam Steering Committee Pembinaan di IKM FTUI? Apakah dinilai dari menjadi apa kita ketika menjalani rapat SC Pembinaan? Apakah dinilai dari tingkat kehadiran kita dalam Sidang Pleno atau Sidang Komisi?

Kalau mengutip penjelasan di KBBI, rasanya makna kontribusi di dunia kemahasiswaan kita sedikit bergeser.
kon.tri.bu.si
[n] (1) uang iuran (kpd perkumpulan dsb); (2) sumbangan
Bukan itu yang kamu maksud, kan, teman?
Aku selalu meyakini bahwa kontribusi adalah dedikasi
de.di.ka.si
[n] pengorbanan tenaga, pikiran, dan waktu demi keberhasilan suatu usaha atau tujuan mulia; pengabdian: untuk melaksanakan cita-cita yg luhur diperlukan keyakinan dan --
Apakah itu yang kamu bicarakan, teman?
i wonder if i can be like them.
Teman, tahukah bahwa kadang kita selalu luput melihat diri kita sendiri? Mari kembali ke dedikasi. Pengorbanan tenaga, pikiran, dan waktu demi keberhasilan suatu tujuan mulia--apakah itu tidak kamu lakukan, teman? Bagiku dedikasi tidak sebatas rajin menghadiri Sidang Pleno dan Sidang Komisi. Atau sebatas memahami pembinaan dan berperan dalam Rapat SC. Dedikasi itu didasari oleh niat, temanku.
Kamu, satu-satunya anggota MPM FTUI 2011 yang pernah kulihat menuliskan dedikasi dalam wujud nyata seperti:
Jadi Anggota MPM Fraksi Sipil yang berkomitmen hingga akhir kepengurusan
Temanku, janganlah merendahkan dirimu sendiri seperti itu. Ketika kamu merasa bersalah dan ada perasaan tidak enak ketika kamu tidak melakukan lebih dari apa yang kamu bisa, itu artinya kamu peduli. Selangkah lagi, kamu akan menuju dedikasi. Kemudian, kamu akan mencapai kontribusi yang dimaksud oleh semua.

Belum terlambat, temanku. Pesimis akan membuatmu muram. Masih ada empat bulan sebelum masa bakti kita berakhir. Masih banyak tempat untuk mengabdi. Dan... masih ada satu hari untuk menyiapkan kontribusi di Sidang Pleno esok hari. Bersemangatlah, temanku!

Membaca wishes list di blogmu membuatku berpikir:
I wonder if I can be like her.
Lihatlah dirimu lebih baik, temanku. Kamu sama menginspirasinya dengan yang lain, karena kamu membuat untaian peringatan, kontribusi dan dedikasi dalam satu perasaan tulus. 

Sampai bertemu esok, temanku!

Lembar Lima: Sapaan untuk Matahari

Wednesday, July 20, 2011
陽光 (c) katsuo


Halo, Matahari.


Kamu hari ini... cerah seperti biasa. Meski hari ini aku melihat cahaya berwarna lain yang berpendar berbeda dari biasanya. Hm... apakah karena aku baru saja mengakui bahwa diriku lebih suka matahari daripada hujan?


Ah, dulunya kamu anggap aku terlalu menyukai hujan, eh? Aku suka, kok, hujan. Tapi ternyata aku lebih menyukai matahari. Sebenarnya akan sangat bagus kalau kamu sudi muncul sedikit di tengah hujan. Tapi tidak mungkin, ya? Kamu sangat bersinar dan cerah (dan bundar). Tetes hujan itu seperti akan menumpukmu, kan? Mungkin kamu takut aku menjadi lebih basah daripada berbau hangat (bagaimanapun, itu hujan)?


Tapi, tahukah kamu? Tetes hujan itu hanya butiran kecil yang tidak berarti. Aku mungkin akan basah, tapi aku tidak akan luput mengetahui kamu ada di tengah semuanya. Bagaimanapun, kamu sangat mencolok! Tetes-tetes hujan itu tidak akan berarti di depanmu! Itu bukan persaingan, tahu. Kamu menang mutlak!


Sayangnya kamu memang tidak suka disaingkan.


Kadang aku berpikir--apakah aku perlu membenci hujan selamanya untuk bisa memandangi kamu setiap hari? Kamu pasti bosan menunggu aku dan pikiran-pikiranku di sisi jendela. Selama kegiatan itu, aku tetap menikmati hujan, sebagaimana aku menikmati kamu. Kamu jadi membenciku, sepertinya.


Maaf ya, Matahari.


Sejak kamu pergi, aku jadi membenci malam. Padahal selama ini aku selalu menyukai malam dan bintang-bintangnya. Rasanya seisi duniaku terbalik! Seharusnya (ya, pasti seharusnya), aku tidak boleh bercakap-cakap denganmu. Kamu, mungkin kamu ditakdirkan untuk ada saja dalam hari-hariku, tapi tidak dalam kehidupanku. Soalnya mataku jadi selalu melihatmu!


Bagaimana kabar Langit? Kulihat kamu sudah berinteraksi dengan awan-awan lebih baik. Lihat, duniamu juga luas dan indah, kan? Apa sekarang aku masih ada di jangkauan hangatmu? Soalnya yang kupandangi akhir-akhir ini hanyalah cahayamu. Aku juga rindu hangat.


Sudah lama tidak hujan. Aku tidak lagi merindukan hujan. Mengejutkan. Kalau hujan tiba, aku rasanya ingin menutup rapat-rapat jendelaku dan bergelung di balik selimut. Aku ingin melihat kamu, bukan hujan. Mengejutkan.


Mengejutkan! Sejak kapan aku menjadi terlalu menyukai terang? Aku... aku bahkan tidak lagi terjaga untuk menunggu malam dan bulan. Aku lebih ingin tidur, di balik selimutku, lalu membuka jendela lagi nanti ketika aku bisa memandangimu.


Aku merasa konyol. Padahal kamu sudah tidak memandangku lagi. Mungkin aku hanya seperti perabot dalam duniamu. Seperti... pohon, mungkin? Atau seperti buah lemon di taman itu? Untuk bisa ada di pandanganmu, apakah aku harus mengalahkan sinarmu? Aku? Aku yang dikenal seperti Bulan di malam hari ini? Sulit sekali!


Eh, aku terlalu jauh.


Pokoknya, kurasa kamu perlu percaya bahwa aku lebih menyukaimu daripada hujan atau malam. Aku tidak ingin berharap kamu akan menoleh padaku! Berharap itu sama saja bersedia melepaskan. Kamu pasti ingat, kalau aku sudah berlari, aku tidak akan berhenti sebelum sampai di tempat yang kutuju.


Meski tempat yang kutuju adalah jarak jutaan cahaya?


Ya, meski itu kamu.


Matahari, siang ini aku belum mengamati perbedaan sinarmu lagi. Tapi ternyata memang, aku paling suka kamu di pagi hari. Karena warnamu lembut dan sinarmu hangat. Karena kamu tidak terlihat terlalu sulit digapai.


Hujan mengetuk pintu jendelaku sekarang. Aku mengabaikannya. Selamat tinggal, hujan. Selamat tinggal, malam. Sekarang aku sedang mencari dimana aku meletakkan sepatuku. Sebentar lagi. Aku tinggal memakainya dan berlari ke arahmu.


Tunggu ya, Matahari!

Lembar Empat

Tuesday, July 5, 2011
"…When you have something you dont want to lose
it's a matter of whether you can just take

that one step, even if you look patheic...…"
[—Iwase Ken, Proposal Daisakusen]
(c) tsumuki

Betapa dekat sesuatu yang disebut kematian itu.

Saya tertegun ketika menerima pesan singkat melalui ponsel hari Minggu malam kemarin. Sungguhkah? Adikku—teman seperjuanganku di Departemen Teknik Kimia UI, dia yang sedang berjuang melawan penyakitnya selama beberapa minggu terakhir—telah meninggalkan kami semua?

Sungguhkah?

Hari ini hari ulangtahunmu, adikku. Saya rasa kamu pasti merayakannya bersama Tuhan dalam lindungan-Nya. Kamu orang yang baik, karenanya Tuhan melepaskan penderitaanmu dengan cara-Nya yang terbaik. Ya Allah, tempatkan adikku ini di tempat-Mu yang terbaik. 

***

Mengingat kematian membuat saya tertegun. Saya bukan orang yang terlalu khawatir akan masa depan, meski saya bukan orang yang tidak percaya Hari Akhir. Tentu saja, kematian sangat dekat dengan kita semua.

Saya—mungkin saya hanya sedikit melupakan banyak hal. Kalau mengingat hari-hari yang berlalu dan waktu yang saya habiskan, rasanya jadi menyedihkan

Terlalu banyak hal yang bukan saya. Terlalu sering menipu diri demi mempertahankan sesuatu bernama egoisme dan harga diri.

Saya—saya ingin melakukan banyak hal.

Saya sempat menonton kembali anime berjudul Pandora Hearts, dan sedikit banyak tertegun pada salah satu adegan. Si tokoh utama, Oz Versallius, adalah dia yang waktunya tidak pernah bergerak. Dia hidup, dia ada, dia melakukan segalanya—tapi waktunya tidak pernah bergerak—tetap pada 10 tahun yang lalu. Ada saat dimana Oz menjadi begitu terkejut dengan dirinya sendiri, dan merasa sangat miris karena yang dia lakukan adalah menyiksa dirinya sendiri. Lalu—dalam suatu pertemuan—Elliot Nightray menamparnya dengan sesuatu. Kira-kira, seperti ini: 
“Kalau kau sudah menyadari apa yang kau lakukan itu salah, maka kau sudah satu langkah berjalan. Apa yang akan kau lakukan berikutnya—entah berhenti atau memutar atau berjalan ke depan—itu kau yang tentukan kemudian.”

Saya ingat saya meneteskan air mata tanpa sadar ketika mendengar itu. Rasanya seperti—seperti menampar diri saya sendiri.

Saya—yang saya lakukan adalah satu langkah berjalan dan kemudian berhenti. Begitu saja. Berhenti seperti saya ragu untuk melangkah atau bahkan kembali duduk dan menangis.

Entahlah.

Saya seperti tidak lagi mengenal diri saya.

Ini—terlalu menyakitkan.

***

Kalau—kalau saja saya bisa jujur dengan sepenuhnya, saya tidak ingin kehilangan. Tapi—kenapa manusia terlahir dengan harga diri dan kebanggaan? Kenapa—jika tidak mau kehilangan, kita harus melangkah dan melepaskan semua itu?

Saya—saya hanya ingin jujur kepada diri saya sendiri.

Apakah saya bisa—?

Saya—

***

Saya teringat kembali kepadamu, adikku. Kamu yang sampai saat terakhir berjuang dan berjalan. Kamu yang sampai saat terakhir mungkin melengkungkan senyum.

Saya—kamu meninggalkan banyak pelajaran berharga untuk saya dan kami semua. Kamu—kepergianmu menjadi sesuatu untuk kami semua.

Selamat jalan, adikku.

Saya juga—

—ingin berjalan tanpa berhenti seperti itu.

doa selalu menyertai adik dan sahabat kami,
Nur Fidini, Teknik Kimia 2010

Custom Post Signature

Custom Post  Signature